bewaracianjur.com
Terpercaya, Terhubung, Adil Sejak Dalam Pikiran

Warga Terdampak Pergerakan Tanah di Cianjur Masih Menanti Relokasi, Ratusan Keluarga Terlantar

0

Bewara Cianjur,– Puluhan warga Kampung Babakan Inpres, Desa Sinarlaut, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur, yang menjadi korban pergerakan tanah pada akhir tahun 2024, hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian. Meski wilayah mereka telah ditetapkan sebagai zona merah oleh pemerintah daerah, belum ada kepastian relokasi yang diberikan.

Bencana pergerakan tanah yang terjadi pada Desember 2024 lalu mengakibatkan kerusakan parah terhadap 56 rumah warga, satu masjid, serta Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cibungur 1. Peristiwa ini bukan yang pertama, mengingat kejadian serupa juga terjadi pada tahun 2017 dan awal Desember 2024, menandakan tingkat kerawanan geologis yang tinggi di kawasan tersebut.

Akibat belum adanya solusi permanen, warga terpaksa bertahan dalam kondisi darurat. Salah satu warga terdampak, Ridwan (45), membangun gubuk darurat di atas reruntuhan rumahnya untuk berlindung bersama istri dan dua anaknya.

“Kami tinggal di gubuk reyot, dindingnya hanya ditutup kain gorden bekas. Kalau hujan, air masuk dari segala arah. Sangat tidak layak, tapi kami tidak punya pilihan lain. Kami hanya bisa berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi sebelum musim hujan semakin deras,” ungkap Ridwan, Senin (15/9/2025).

Nasib serupa dialami oleh ratusan keluarga lainnya. Sebagian warga yang memiliki kemampuan finansial terbatas berusaha memperbaiki rumah mereka yang rusak meski berisiko tinggi. Sementara itu, warga yang tidak mampu hanya bisa bertahan dengan kondisi seadanya. Saat hujan deras turun, banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, bahkan aktivitas belajar-mengajar di sekolah harus dihentikan demi keselamatan.

Menanggapi keluhan warga, Bupati Cianjur, dr. Wahyu, menegaskan bahwa relokasi merupakan prioritas utama pemerintah daerah. Namun, ia mengakui proses relokasi masih terkendala masalah administrasi, khususnya pengadaan lahan.

“Relokasi ini menjadi prioritas kami. Kami tidak ingin ada korban jiwa. Pemerintah desa sudah kami instruksikan untuk menyiapkan lahan, dan kami akan membelinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Bupati Wahyu.

Meski demikian, hingga kini janji tersebut masih belum terealisasi. Masyarakat Babakan Inpres masih menunggu kepastian, sementara potensi bencana susulan kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya intensitas hujan di wilayah selatan Cianjur.

Warga berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada janji, melainkan segera mengambil tindakan nyata sebelum muncul korban jiwa akibat kelambanan penanganan.(Red)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

google-site-verification: google1fb702fc0f365d5d.html