bewaracianjur.com
Terpercaya, Terhubung, Adil Sejak Dalam Pikiran

Sebanyak 488 Gay Mengindap HIV/AIDS, 21 di Antaranya Meninggal Dunia

0

CIANJUR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur mengungkapkan ada ratusan orang pelaku penyimpangan seksual atau hubungan sesama jenis laki-laki seks laki-laki (LSL).

Bahkan, tercatat sejak 2015 lalu hingga tahun ini ada 488 orang LSL atau gay yang positif HIV/AIDS.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Yusman Faisal, mengatakan dari data sela 8 tahun terakhir itu, sebanyak 168 LSL yang positif HIV/AIDS menjalani pengobatan, 320 orang tidak berobat, dan 21 lainnya meninggal dunia.

“Angkanya memang banyak, dikurangi yang sudah meninggal, total ada 467 orang dengan HIV/AIDS di Cianjur yang merupakan pelaku seks menyimpang LSL,” kata dia, belum lama ini.

Namun Yusman menyebut LSL yang terdata tersebut merupakan LSL yang sudah membuka diri dan bersedia menjalani test.

“Kemungkinan masih banyak LSL di Cianjur, karena kan ini data LSL yang sudah membuka diri, menjalani test, dan yang merupakan pengidap HIV/AIDS. Kalau dengan yang tidak positif kemungkinan LSL itu banyak. Tapi fokus kami menganani yang sudah positif HIV/AIDS, memfasilitasi pengobatan agar virusnya tidak cepat berkembang,” ucap dia.

Senada, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Cianjur Hilman, menuturkan angka jumlah LSL di Cianjur bagaiman fenomena gunung es, dimana data yang muncul hanya sedikit dibandingkan data asli yang belum terungkap.

“Yang terdata itu memang yang sudah membuka diri untuk konsultasi hingga berobat. Bisa jadi yang tidak terdata, yang menutup diri ini lebih banyak dibandingkan yang sudah terdata,” ucap dia.

Menurutnya berdasarkan data KPA, jumlah LSL di Cianjur ada sekitar 500 orang dengan 40 orang diantaranya mengisap HIV/AIDS.

“Ini pendataan terbaru, belum secara kumulatif. Karena untuk mengakses data butuh proses. Kalau dijumlahkan data yang Dinkes yang sudah positif HIV dengan data kami yang LSL tapi negatif HIV kan sudah banyak, ratusan orang,” kata dia.

Dia mengatakan untuk mencegah pelaku penyimpangan seksual terus bertambah, perlu peran serta dari semua pihak, mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat dan agama, hingga masyarakat umum.

“Pembinaan dan pencegahannya juga harus sedini mungkin, dari usia anak supaya tidak salah dalam bergaul. Makanya kami dalam waktu dekat akan melakukan pembinaan ke sekolah-sekolah. Tapi untuk lebih maksimal, perlu ada keterlibatan semua pihak. Karena selain dari perilakunya, yang lebih bahaya itu terkait penyakit menular yang lebih rentan menyebar di kalangan pelaku seks menyimpang ini,” pungkasnya.(*/rmd)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

google-site-verification: google1fb702fc0f365d5d.html