bewaracianjur.com
Terpercaya, Terhubung, Adil Sejak Dalam Pikiran

Cerita Petugas Pantarlih Cantik Asal Sukanagara, Coklit ke Kuburan dan Dikejar Anjing hingga Diajak Nikah

0

CIANJUR – Cerita unik petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) di Desa Sukalaksana, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada saat melakukan Pencocokan dan Penelitian (Coklit) data pemilih Pilkada 2024. Gadis cantik itu harus dikejar anjing hinga mendatangi pemakaman dan diajak nikah kakek-kakek.

Hal tersebut dialami oleh Diana Rahmawati (20) wanita berparas cantik asal Kampung Cibitung RT 03/RW 03, Desa Sukalaksana, Kecamatan Sukanaga, Kabupaten Cianjur.

Awalnya, Diana sendiri sedang melakukan tugas Coklit di Kampung Cibitung yang memang sangat terpencil jauh dari pemukiman. Menurutnya, untuk masuk wilayah tersebut harus melewati hutan dan perkebunan. Sementara warga di ke-RT-an itu notabennya hampir semuanya memelihara anjing.

“Saya posisinya cewek terus sendiri, saya juga jalan pelan-pelan terus tiga ekor anjing juga ngikutin, terus ada anak-anak lagi mancing terus anjingnya malah di lemparin, anjingnya lari ke arah saya, saya juga langsung lari di kejar anjing itu lumbayan jauh. Mana bawa peralatan coklit setelah itu saya nyamperin bapak-bapak yang lagi nyari rumput minta bantuan,” tuturnya saat dihubungi, Selasa (9/7/2024).

Setelah Diana selesai melakukan tugas coklit, anjing tersebut masih ada di jalur yang harus dirinya lewati untuk pulang. Dirinya pun menangis dan kebingungan karena takut dikejar kembali oleh tiga ekor anjing tersebut.

“Saya nangis dulu bingung mau gimana, karena disana sendiri kalau yang lainnya per TPS dua orang kalau saya sendiri, bingung mau pulang ada anjing untungnya ada satu jalan lagi meskipun lebih jauh, lebih kaya hutan banget terpaksa mana sore-sore udah mendung,” ucapnya.

Dirinya mengaku baru pertama kali menjadi petugas Pantarlih. Menurutnya, dalam satu TPS ia harus melakukan sebanyak 400 pencoklitan. Ia melakukan tugas pencoklitan di TPS Lima Kampung Cibitung, Desa Sukalaksana.

“Jadi sebetulnya saya sudah dua kali di kejar anjing itu, saya jadi petugas baru pertama, gak tahu kalau di kampung ini banyak anjing kirain gak ada makannya aku berani sendiri,” jelasnya.

Selain dikejar-kejar anjing, Diana juga harus mencocokan data kesebuah pemakaman, karena pihak keluarga almarhum tidak mengetahui tanggal wafatnya karena sudah lama.

“Saya kan nanyain tanggal wafat ibunya, tapi karena wafatnya sudah lama jadi anaknya gak tau mungkin lupa, jadi nyuruh untuk ngecek ke makamnya langsung,” katanya.

Diana mengungkapkan, wilayah tersebut masih satu kampung dengannya. Namun, hanya saja beda ke-RT-an. Ke-RT-an yang warganya banyak memelihara anjing lebih ke dalam lagi.

“Jadi satu kampung itu tiga RT, dari rumah sayamah jauh banget satu kiloan saya di RT 03, nah yang saya dikajar anjing itu di RT 02, itu ke dalam banget tapi kalau yang kuburan masih satu RT sama saya,” bebernya.

Tak cukup di situ, mahasiswi semester dua di Universitas Terbuka itu juga mendapat pengalaman diajak menikah seorang kakek yang hidup sebatang karang.

“Pas mendatangi rumah warga, kebutulan kakek-kakek, malah bilang ‘Sudah temanin saya saja di rumah, kita nikah’ Saya langsung menolaknya, dan segera pergi,” ujarnya

Atas kejadian tersebut Diana tidak merasa kapok. Menurutnya hal tersebut dijadikan sebuah pengalaman dan wawasan baru untuk dirinya.

“Kalau saya nanti jadi petugas lagi mau request gak mau sendiri pengen berdua gak mau sendiri. Allhamdulilah tapi tugas mencoklit semuanya udah beres dalam waktu enam hari,” tutupnya.(*/rmd)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

google-site-verification: google1fb702fc0f365d5d.html