bewaracianjur.com
Terpercaya, Terhubung, Adil Sejak Dalam Pikiran

Warga di Kaki Gunung Gede Mulai Kesulitan Mendapatkan Air

0

CIANJUR – Raut wajah Erma terlihat begitu lelah. Perempuan berusia 50 tahun warga Kampung Jamaras RT 02/15 Desa Sarampad Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur itu baru saja mengangkut air di aliran sungai yang berjarak sekitar 1 kilometer dari kediamannya.

Hal itu dilakukannya hampir setiap hari sejak sebulan terakhir. Erma terpaksa memanfaatkan air sungai lantaran sumur di rumahnya menyusut akibat dampak kemarau.

Kondisi serupa dirasakan Enen, lansia berusia 70 tahun, yang juga warga Kampung Jamaras. Di usianya yang sudah sepuh, Enen tetap memaksakan diri mengambil air dari aliran sungai karena tak punya stok air bersih di rumahnya.

“Sudah cukup lama kami kesulitan mendapatkan air. Makanya, sekarang ngambil air dari sungai,” kata Erma kepada wartawan ditemui Sabtu (22/7/2023).

Erma mengaku dalam sehari bisa empat sampai lima kali bolak-balik ke sungai. Namun Erma terpaksa melakukannya karena tidak ada lagi sumber air yang bisa dimanfaatkan.

“Mau gimana lagi, di sana-sini sudah engga ada air. Jadinya memakai air sungai,” ucapnya.

Namun air dari aliran Sungai Parigi itu dimanfaatkan Erma hanya untuk kepentingan mencuci peralatan makan ataupun mencuci. Untuk kebutuhan minum ia lebih memilih membeli air isi ulang meskipun harus merogoh kocek.

Menuju ke aliran Sungai Parigi warga harus berhati-hati. Pasalnya, akses jalan ke lokasi cukup curam.

Jika tak berhati-hati bisa celaka. Seperti dialami Enen yang pernah terjatuh saat membawa air.

“Tapi tidak apa-apa. Hanya terjatuh kena batu. Mau gimana lagi, itu (Sungai Parigi) satu-satunya yang bisa dimanfaatkan warga di sini,” katanya.

Yana (40), tokoh pemuda kampung setempat, mengatakan kemarau kali ini tak hanya berdampak terhadap krisis air bersih bagi warga. Tapi juga lahan pertanian pun mulai merasakan dampaknya.

“Kemarin sempat gagal panen karena tidak ada pasokan air. Sekarang udah gak bisa menanam karena boro-boro ada air,” kata Yana.

Yana menuturkan sebelum terjadi gempa, wilayahnya terbilang sangat subur. Apalagi pasokan air, selama ini tak pernah kekurangan.

“Airnya langsung dari Gunung Gede. Airnya ditampung di sumber mata air. Tapi setelah gempa pasokan air makin sedikit. Ada juga bantuan sumur bor, tapi airnya kecil,” pungkasnya. (nov)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

google-site-verification: google1fb702fc0f365d5d.html