CIANJUR – Permukiman warga di Kampung Rawa Sampih, Desa Kemang, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, mulai merasakan dampak kemarau. Debit air sumur di rumah-rumah warga sudah mulai menyusut.
Akibatnya, warga memilih menggunakan air di aliran Sungai Cihea untuk kebutuhan mandi. Namun, tak sedikit warga yang mengalami alergi yang menyebabkan kulit mereka menjadi gatal.
Aep (50) misalnya, warga setempat, yang mengaku akhir-akhir ini terpaksa harus mandi di aliran sungai karena sumur di rumahnya mulai mengering. Kondisi itu terjadi sejak sebulan terakhir.
“Karena airnya surut, jadi tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Paling untuk kebutuhan minum dan memasak. Kalau untuk mandi, saya biasanya menggunakan air sungai,” kata Aep, Selasa (11/7/2023).
Seusai mandi, kata Aep, ia biasanya membekal air untuk dibawa ke rumah. Air itu digunakan untuk kebutuhan buang air besar di rumah.
“Kami tak buang air besar di sungai. Tapi kami bawa airnya ke rumah. Buang air besarnya di rumah saja,” jelasnya.
Aep tak memungkiri sejak mandi di sungai, ia dan sejumlah warga lainnya sering mengalami gatal. Tapi ia tetap memaksakan menggunakan air sungai karena tidak ada sumber air lainnya.
“Airnya kotor. Mungkin karena tercemar sampah. Jadi kulit kadang gatal. Padahal sudah pakai sabun dan dibilas bersih,” katanya.
Aep berharap ada solusi dari pemerintah agar warga tak menggunakan air sungai saat kemarau seperti sekarang. Misalnya, pemerintah menyediakan tempat penampungan air atau membuat saluran air bersih yang bisa dimanfaatkan warga. (nov)
