bewaracianjur.com
Terpercaya, Terhubung, Adil Sejak Dalam Pikiran

Rumah Ambruk, Suaminya Meninggal, Dua Anaknya Luka Berat, Tapi Luput dari Bantuan Pemerintah

0

EMA Hayati (32), warga Kampung Garogol Kidul RT 02/RW 05, Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang-Kabupaten Cianjur. Dia salah satu korban gempa Cianjur pada 21 November 2022 lalu, yang kini nasibnya terkatung-katung karena tidak mendapatkan bantuan sama sekali untuk melanjutkan hidup.

Suaminya, Usman (51) meninggal dunia pada peristiwa tersebut dan meninggalkan 3 orang anak, bernama Muhammad Arya (12), Samsu (9), dan Ramadhan Kalif Saputra (2).

Rumah yang ia tempati juga ambruk. Nasib nahas tidak menimpa suaminya saja, Ema dan dua anaknya pun tak luput dari ‘ganasnya’ gempa Cianjur bermagnetudo 5,6 itu.

Ema mengalami luka-luka, anak keduanya Samsu (10) mengalami luka serius di bagian kepala dan mendapat 10 jahitan. Lalu anak ketiganya Ramadhan Kalif Saputra (2), mengalami luka parah di bagian kepala dan mendapatkan 50 jahitan. Sementara anak pertamanya, Muhammad Arya (12) selamat dari bencana tersebut.

Kini ia bersama anaknya tinggal di tenda terpal berukuran sekitar 3×4 meter hingga saat ini. Sebulan lebih ia harus merawat ketiga anaknya dalam tenda berukuran kecil itu.

Di dalam tenda kecil, Ema merawat ketiga anaknya. Tempat tinggal sementara yang menyiksa itu membuat anak-anaknya sering jatuh sakit. Terlebih harus melakukan rawat jalan akibat luka yang diderita kedua anaknya tersebut.

Ema bercerita bahwa ia hanya mendapatkan bantuan perawatan gratis saja untuk menyembuhkan kedua anaknya. Sedangkan bantuan kerohiman senilai Rp15 juta dari Kementerian Sosial (Kemensos) tidak ia dapatkan.

Apalagi bantuan rumah rusak, tentu saja ia tidak mendapatkannya. Sebab, rumah yang ia tempat merupakan milik orang lain alias ngontrak.

“Saya itu statusnya istri kedua dari almarhum Usman. Pastinya bantuan kerohiman diambil oleh istri pertamanya. Ia juga yang mengusulkan bantuannya,” bebernya kepada Bewaracianjur.com, Jumat (30/12/2022).

Statusnya sebagai istri kedua membuat ia luput dari bantuan pemerintah. Ema pun bingung harus bergantung hidup kepada siapa. Sebab, tulang punggung satu-satunya adalah suaminya sebelum meninggal.

Ia pun bingung harus tinggal dimana. Harta bedanya juga tiada. Hanya sisa-sisa baju yang bisa diselamatkan dari reruntuhan bangunan. (rmd)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

google-site-verification: google1fb702fc0f365d5d.html