bewaracianjur.com
Terpercaya, Terhubung, Adil Sejak Dalam Pikiran

Ratusan Siswa di Cianjur Sudah Empat Tahun Pertaruhkan Nyawa Naik Rakit Demi Pendidikan

0

Bewaracianjur — Jembatan gantung yang merupakan akses vital warga menghubungkan dua kecamatan di Kabupaten Cianjur, terputus total sejak empat tahun lalu. Jembatan gantung penghubung Desa Sukamahi, Kecamatan Cijati dengan Desa Neglasari dan Desa Talagasari Kecamatan Kadupandak hanyut diterjang banjir bandang pada tahun 2021.

Kondisi darurat infrastruktur ini telah memaksa ratusan warga, termasuk pelajar dan pekerja, untuk setiap hari mempertaruhkan nyawa menyeberangi derasnya arus Sungai Cibuni menggunakan rakit darurat.

“Dari tahun 2021 saya sudah naik rakit karena jembatannya rusak diterjang banjir,” ujar Sella, seorang siswi SMA yang mengaku sudah empat tahun rutin menggunakan rakit demi mencapai sekolah.

Putusnya jembatan sepanjang lebih dari 100 meter ini telah melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Sungai Cibuni, yang memiliki lebar sekitar 125 meter, kini menjadi penghalang utama.

Warga memilih jalur berbahaya ini karena akses jalan alternatif resmi mengharuskan mereka memutar hingga sejauh 10 kilometer, sebuah jarak yang tidak efisien dan memakan waktu tempuh signifikan.

Wakil Kepala Sekolah Madrasah Aliyah (MA) Bojong Jati, Edi Wahyu, menjelaskan bahwa banyak siswa sering terlambat atau terpaksa tidak masuk sekolah, terutama saat debit sungai meningkat.

“Kalau memaksakan lewat rakit, sampai sekolah bisa satu jam. Tapi kalau pas banjir, kami kasih izin untuk tidak sekolah karena berbahaya,” ungkap Edi. Pada Minggu ( 7/12/2025)

Para pelajar seperti Sella harus melepas sepatu agar tidak basah dan terbiasa melawan derasnya arus sungai setiap hari.

Bukan hanya pejalan kaki, pekerja juga terpaksa menggunakan sarana penyeberangan tradisional ini. Atep (35), warga Kampung Parabon, Desa Talagasari, bahkan harus menyeberang sambil membawa sepeda motor untuk bekerja.

“Iya kerja jadi harus naik rakit setiap hari. Motor juga ikut dinaikin meskipun arus sungai cukup deras. Kalau melihat takut ya takut, tapi kondisi seperti ini mau gimana lagi,” kata Atep.

Untuk jasa penyeberangan, warga membayar ‘seikhlasnya’ kepada penjaga rakit yang merupakan inisiatif swadaya masyarakat setempat.

Menurut Edi, kerusakan jembatan tersebut diakibatkan oleh banjir besar tahun 2021 yang membawa pohon tumbang dan menggerus pondasi vital. Kondisi ini, yang sudah berlangsung selama empat tahun, dinilai sudah terlalu lama dibiarkan.

Warga dari Desa Sukamahi, Neglasari, dan Talagasari mendesak Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk segera mengambil tindakan nyata. Mereka menekankan bahwa pembangunan kembali jembatan bukan hanya masalah akses, tetapi juga menyangkut keselamatan jiwa ratusan warga, serta keberlangsungan pendidikan dan roda perekonomian masyarakat di dua kecamatan tersebut.(Red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

google-site-verification: google1fb702fc0f365d5d.html