bewaracianjur.com
Terpercaya, Terhubung, Adil Sejak Dalam Pikiran

Ratusan Nelayan Cianjur Berhenti Melaut, Ada Apa?

1

CIANJUR – Ratusan nelayan di Cianjur selatan, Kabupaten Cianjur, sudah tidak bisa melaut selama beberapa bulan terakhir ini. Cuara buruk dan tidak adanya dermaga menjadi kendala utama. Akibatnya, hasil tangkapan ikan sangat minim sehingga stok di tempat pelelangan ikan (TPI) Jayanti hampir tidak ada.

PPB Agrabinta Dinas Peternakan Kesehatan Hewan dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Cianjur, Cecep, mengatakan, ada sekitar 700 perahu nelayan yang ada di Pantai Cianjur selatan. Sebanyak 80 persen di antaranya terpaksa tidak melaut karena cuara buruk.

“Sudah beberapa bulan tidak melaut. Kendalanya cuara, ditambah tidak ada dermaga bagi nelayan,” kata dia.

Cecep menyebutkan, kebutuhan ikan laut di TPI Jayanti untuk sementara dipasok dari Palabuan Rayu, Sukabumi, dan daerah Pemeungpeuk, Garut. Untuk harga tentu jauh lebih mahal, namun dia mengaku tidak mengetahui secara rinci berapa harga-harga ikan laut di TPI.

“Sekarang pasokan ikan mengandalkan dari Palabuan Ratu sama Pameungpeuk, karena hampir tidak ada nelayan yang melaut,” jelasnya.

Musim paceklik tahun ini, kata Cecep, nelayan hanya meluat tiga bulan selama satu tahun, pada November, Desember, dan Januari. Diperkirakan hasil tangkapan mencapai 70 ton pada bulan tersebut jika semua nelayan melaut.

“Mudah-mudahan Cianjur memiliki dermaga untuk nelayan, karena nelayan kita masih melaut di wilayah Garut dan Tasik,” ungkapnya.

Di sisis lain, selain faktor cuaca Bahan Bakar minyak (BBM) naik sejumlah nelayan di Pantai Jayanti, tepatnya di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur  terpaksa berhenti. Selain itu, tingkat harga jual ikan yang menurun membuat pendapatan para nelayan tidak menentu.

Cacang (32) seorang nelayan di Jayanti menyebutkan,  saat ini dari sebanyak 700 nelayan di Cidaun sekitar 25 persennya memilih untuk tidak melaut karena tangkapan ikan yang menurun.

“Saat ini tangkapan ikan menurun, biasanya kita bisa menangkap ikan hingga puluhan kilogram, tapi kini cuman 5-7 kilogram saja perharinya,” kata dia.

Selain itu, kata dia, harga jual ikan hasil tangkapan saat ini harganya mengalami penurunan, seperti ikan jenis Kadukang atau Jalam Roti lokal dari seharga Rp 28 ribu per kilogram jadi Rp 25 ribu per kilogramnya.

“Tidak hanya itu setelah pemerintah menaikan harga BBM, membuat biaya untuk melaut tinggi. Sedangkan hasil tangkap tidak menentu sehingga membuat para nelayan memilih untuk tidak melaut,” katanya.

Sementara itu, Cacu Supriyadi (44) mengatakan, sejumlah nelayan yang terpaksa berhenti sementara untuk melaut, saat ini beralih menjadi pekerja serabutan, seperti tukang bangunan, dan buruh tani.

“Daripada melaut dengan hasil tangkapan yang tidak menentu kita sementara terpaksa mencari pekerjaan lainnya demi memenuhi kebutuhan keluarga sehari-harinya,” tuturnya.

Dia dan nelayan lainnya berharap, pemerintah untuk segera melakukan sejumlah upaya agar nelayan di pesisir pantai Cianjur selatan agar bisa kembali melaut.

“Kami bersama nelayan lainnya sangat berharap kepada pemerintah agar secepatnya bergerak untuk berupaya, supaya semua nelayan bisa melaut kembali,” pungkasnya.(rmd)

1 Comment
  1. […] Baca juga: Ratusan Nelayan Cianjur Berhenti Melaut, Ada Apa? […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

google-site-verification: google1fb702fc0f365d5d.html