CIANJUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur terus berupaya dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), terutama dari sektor pendidikan.
Bahkan, Bupati Cianjur Herman Suherman, menyediakan anggaran Biaya Tidak Terduga (BTT) Rp20 miliar kebencanaan termasuk untuk akses pendidikan.
Herman tidak main-main dalam meningkatkan IPM pada sektor pendidikan. Dia mengaku sudah membuat tim bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur dalam pembangunan pendidikan.
Hal itu berdasarkan faktor penghambat yang menyebabkan kenaikan adalah masih rendahnya rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk Cianjur di bawah 9 tahun.
Pada 2017 lalu nilai indeks pendidikan sebesar 0,5610 poin meningkat menjadi 0,5724 poin di 2020. Sedangkan target akhir yang ingin dicapai adalah sebesar 0,6045 poin, sehingga tingkat capaian sampai tahun 2020 terhadap target akhir RPJMD baru sebesar 94,69 persen.
Di tahun ini (2022, red) pihaknya mengupayakan peningkatan indeks pendidikan yang diprediksikan perlu kerja keras untuk mencapai target akhir RPJMD.
Seperti melakukan pendataan kepada warga yang anaknya tidak sekolah lantaran terkendala biaya untuk meningkatkan RLS. Pemerintah akan memberikan biaya gratis untuk mereka yang tidak mampu.
“Kalau tidak mampu sekolah karena biaya, cepat lapor saya!” tegas dia.
Tak hanya itu, orang nomor satu di Kota Tauco ini juga segera memperbaiki infrastruktur yang menjadi akses menuju sekolah. Seperti membangun jembatan baru dan memperbaiki jembatan-jembatan gantung, termasuk akan dibangun jembatan di Agrabinta.
Sementara untuk pembangunan ruang kelas yang rusak juga segera diperbaiki dari berbagai bantuan dan anggaran APBD kabupaten.
Herman mengungkapkan, peningkat IPM tidak bisa dilaksanakan hanya oleh pemerintah daerah saja, tapi harus semua pihak itu terlibat. Sebab, IPM menjadi PR bersama terutama pembangunan pendidikan yang perlu digenjot.
“Saat ini kita sedang fokus pada IPM, maka untuk meningkatkan IPM sekarang guru-guru harus mendorong muridnya ketika lulus SD wajib harus masuk SMP, yang lulus SMP langsung SMA,” ungkapnya.
Herman juga menugaskan para guru untuk terjun langsung mendorong para orangtua agar anaknya bisa terus melanjutkan sekolah.
“Kalau tidak mampu, ada PKBM. Dulu ada 11 PKBM, sekarang sudah ada ratusan PKBM yang terakreditasi. Atau bisa lapor saya. Bahkan, hingga jenjang universitas pun ada beasiswa setiap tahun,” pungkasnya.(rmd)
