CIANJUR – Kematian Ai Maemunah (40) serta kedua anaknya, Ridwan (18) dan Wandi (15) diduga keracunan ditemukan banyak kejanggalan pada Kamis (12/1/2023) lalu.
Pihak keluarga meyakini bahwa para korban kuat dugaan sengaja dibunuh oleh suaminya WN (60) dengan cara diracuni. Dalam peristiwa tersebut, ada lima orang yang diduga diracuni.
Dua orang di antaranya selamat, bernama Ayu (9), dan Dede (48) paman korban yang saat ini dalam keadaan kritis.
Aas (46), kakak korban Ai, menceritakan, WN sebelumnya merupakan ayah tiri Ai. Sedangkan Ai sendiri sebelumnya memiliki suami bernama Didin (45) dan dikaruniai tiga orang anak, bernama Ridwan, Wandi, dan Salsa (13), lalu bercerai.
Setelah ibu kandung Ai meninggal dunia, WN langsung menikahi Ai Maemunah dan dikaruniai satu orang anak bernama Ayu (9). Sedangkan Ridwan, Wandi, dan Salsa merupakan anak tiri WN.
Sebelum tinggal di Ciketing, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, keluarga tersebut tinggal di daerah Bandung dengan cara berpindah-pindah rumah kontrakan.
Bahkan, keluarga besar Ai pun tidak mengetahui dimana mereka tinggal karena WN melarang berkomunikasi dengan pihak keluarga.
“Setiap ditanya tinggal dimana, mereka tidak memberitahunya. Bahkan berkunjung pun tidak boleh,” kata Aas.
Singkat cerita, lanjut Aas, keluarga Ai dan anaknya pindah ke Bekasi tiga hari sebelum kematian mereka. Hanya Salsa yang tidak ikut pindah ke Bekasi.
Anehnya, paman korban Dede juga disuruh ikut pindah menemani mereka ke Bekasi. Tiga hari kemudian, Aas kaget bahwa kelima orang itu keracunan makanan dan tiga di antaranya meninggal dunia.
“Sebelum pindah ke Bekasi, Ridwan dan Wandi juga disuruh keluar dari pekerjaannya dan membawa sepeda motor milik atasannya,” ungkap Aas.
Mungkin tadinya, WN diduga ingin mengelabui pihak kepolisian jika mereka semua meninggal dunia, ada prasangka satu keluarga meninggal dunia akibat keracunan makanan.
“Soalnya keluarga Ai Maemunah masuk ke dalam kartu keluarga (KK) milik Dede paman korban. Sedangkan WN tidak masuk ke dalam KK, ” bebernya.
Kini, kata Aas, WN suami korban menghilang dan hingga kini tidak jelas keberadaannya. Aas meminta kepolisian untuk mengusut dan mengungkapkan kasus kematian ketiga anggota keluarganya tersebut.
“Saat saya menjemput jenazah ke rumah sakit di Bekasi. Kepolisian setempat menyebutkan telah mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya beberapa gelas berisi air kopi yang diduga sisa konsumsi dari korban,” kata Aas, kepada wartawan, Sabtu (14/1).
Selain Aas, kakak almarhumah Ai Maemunah, Nanang jua meyakini, ada keterlibatan dari suami korban, WN dalam kasus kematian adik serta dua orang keponakannya itu.
Nanang menyebutkan, terdapat sejumlah barang korban yang hilang, di antaranya sepeda motor Honda Scoopy yang dipinjam almarhum Wandi dari tempatnya bekerja di sebuah konveksi di Bandung.
“Motor itu milik bosnya Wandi yang dipinjamnya dari tempatnya bekerja di konveksi di Bandung. Kita mengetahui hal ini setelah pemilik konveksi datang untuk mencari sepeda motor yang dipinjam keponakan saya sejak 30 Desember lalu. Namun, kini motor tersebut hilang berbarengan dengan tidak diketahuinya keberadaan WN,” kata Nanang.
Sementara itu, Pemilik konveksi, Arif mengatakan awal kedatangannya ke Cianjur berniat mencari motor yang ia titipkan kepada Wandi.
Kata Arif, Wandi sudah seperti adik sendiri karena anaknya baik dan jujur. Selain mencari motor, Arif juga ingin bertemu Wandi karena sejak tanggal 30 Desember sudah izin tak masuk kerja.
Mereka juga mendapat kabar jika awal tahun Wandi akan masuk kembali bekerja namun tak kunjung masuk kerja.
“Setelah menelepon temannya saya mendapat alamat di Cianjur ini, namun kini kami juga sangat bersedih karena Wandi sudah meninggal,” kata Arif.
Arif mendapat kabar bahwa motor Scoopy yang semula dibawa Wandi kini hilang bersamaan dengan menghilangnya WN ayah tiri Wandi.
“Jadi setelah ayah tirinya menghilang ada dua motor yang hilang yang semula dipakai Wandi dan Ridwan, yakni Scoopy dan Beat,” kata Arif mengutip keterangan dari keluarga Wandi di Cianjur.(rmd)